Friday, 26 June 2009

Peluang Usaha Abon Bandeng

Abon2 Kabupaten Sidoarjo memiliki jenis lahan perikanan yang cukup luas, sehingga komoditi perikanan yang dihasilkan cukup besar terutama jenis ikan bandeng. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah. Pada tabel dapat terlihat komoditi bandeng yang dihasilkan Kabupaten Sidoarjo sangat melimpah, sehingga perlu adanya usaha untuk meningkatkan daya simpan dan daya awet produk perikanan pada pasca panen. Hal ini bisa dilakukan melalui proses pengolahan maupun pengawetan terutama pada jenis ikan bandeng yang merupakan hasil komoditi perikanan terbesar di Kabupaten Sidoarjo.

Salah satu jenis usaha yang potensial untuk produk ikan adalah abon ikan bandeng. Abon merupakan salah satu produk hasil olahan dari bahan baku ikan. Adapun salah satu dari tujuan pembuatan abon adalah untuk memperpanjang umur simpan dari ikan. Limbah abon yang dihasilkan berupa tulang-tulang ikan dapat digunakan untuk pembuatan tepung ikan sehingga kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh limbah industri ini juga dapat di minimalisir. Peluang pasar abon ikan bandeng sangat baik, mengingat tingkat persaingan yang masih rendah. Sehubungan dengan hal tersebut,diperlukan analisis studi kelayakan tentang pendirian industri pengolahan abon ikan bandeng.

Tahapan proses pembuatan abon ikan bandeng adalah sebagai berikut :

BAHAN

1. Ikan bandeng (2 kg)
2. Bawang merah (1 ons). Sebanyak 3/4 dari bawang ini dijadikan bawang goreng.
3. Bawang putih (0.4 ons)
4. Bubuk ketumbar secukupnya
5. Lengkuas
6. Daun salam
7. Sereh
8. Gula pasir secukupnya
9. Asam Jawa secukupnya
10. Santan kental 0.2 lt

PERALATAN

1. Pisau dan telenan. Alat ini digunakan untuk menyiangi dan memotong ikan bandeng.
2. Penggiling bumbu. Alat ini digunakan untuk menggiling bumbu sampai halus.
3. Wajan. Alat ini digunakan untuk menggoreng abon.
4. Pemarut. Alat ini digunakan untuk memarut kelapa.
5. Peniris sentrifugal. Alat ini digunakan untuk mengeluarkan minyak dari abon panas yang baru digoreng.
6. Alat press. Alat ini digunakan untuk memeras abon panas sehingga minyaknya keluar.

CARA PEMBUATAN

1. Penyiangan ikan bandeng. Ikan bandeng disiangi. Jeroan, tulang dan kepala dibuang. Setelah itu ikan dipotong-potong dan dicuci bersih.
2. Penyiapan suiran ikan. Potongan ikan bandeng yang telah dicuci bersih dikukus selama 1 jam. Setelah dingin tulang ikan dibuang, kemudian disuir-suir dan ditumbuk dengan pelan-pelan sehingga berupa serat-serat halus.
3. Penyiapan bumbu dan santan. Lengkuas dan sereh dipukul-pukul sampai memar. Bawang merah(1/4 ons), bawang putih dan ketumbar digiling halus, kemudian ditumis. Setelah agak harum,ditambahkan santan kental, lengkuas, asam jawa, gula, daun salam dan sereh. Pemanasan diteruskan sampai mendidih dan volume santan tinggal setengahnya.
4. Pemasakan abon: 1. Suiran dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam santan mendidih. Sementara itu, api dikecilkan sekedar menjaga santan tetap mendidih. Pemanasan yang disertai pengadukan dilakukan sampai suiran ikan menjadi setengah kering. Hasil yang diperoleh disebut dengan abon lembab ikan. 2. Abon lembab ikan bandeng diangkat, kemudian digoreng di dalam minyak panas (suhu 170 derajat celcius) sampai garing (bila diremas berkemersik).
5. Penirisan. Abon panas yang baru diangkat dari minyak harus segera ditiriskan. Penirisan dianjurkan dengan menggunakan alat peniris sentrifugal, alat pres ulir, atau pres hidrolik.Setelah ditiriskan dengan alat peniris sentrifugal, atau alat pres, abon dipisah-pisahkan.
6. Pencampuran dengan bawang goreng. Abon yang telah ditiriskan dicampur dengan bawang goreng. Hasil yang diperoleh disebut dengan abon ikan bandeng.
7. Pengemasan. Abon ikan bandeng dikemas di dalam kemasan yang tertutup rapat. Kantong plastik merupakan salah satu kemasan yang cukup baik digunakan untuk mengemas abon.

Baca Selengkapnya......

Peluang Usaha Berbagai Macam Olahan Kedelai

Kedelai (Glycine max Merr) merupakan salah satu hasil pertanian yang sangat penting sebagai bahan makanan, karena jumlah dan mutu protein yang dikandungnya sangat tinggi yaitu sekitar 40 % hampir menyamai kadar protein susu skim kering. (Hardjo, 1964).

Sebagai bahan baku makanan, kedelai termasuk bahan makanan yang mempunyai susunan zat yang lengkap dan mengandung hampir semua zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang cukup (Winarno dan Rahman, 1974). Bila seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber protein hewani lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai. Kedelai merupakan komoditas pertanian yang sangat penting, karena memiliki multi guna. Kedelai dapat diolah menjadi: tempe, kecap, tahu, kerupuk tahu, kembang tahu, nata de soya, susu, soyghurt, dan lain-lainnya. Proses pengolahan kedelai menjadi berbagai makanan pada umumnya merupakan proses yang sederhana, dan peralatan yang digunakan cukup dengan alat-alat yang biasa dipakai di rumah tangga, kecuali mesin pengupas, penggiling, dan cetakan.

Proses pengolahan kedelai untuk produk pangan antara lain:

Tempe
* Bahan : Kedelai putih (1/2 kg), Air bersih, Bibit tempe/ragi tempe dan plastik
* Alat : Dandang, blender, ember plastik, tambir/tampah bersih, plastik.
* Cara Pembuatan :
1. Kedelai disortasi kemudian dicuci
2. Kedelai yang telah disortasi selanjutnya direndam dalam air 24 jam
3. Rebus kedelai selama 30 menit (mendidih 15 menit)
4. Direndam dalam air semalam.
5. Kedelai rendaman selanjutnya dikupas, kemudian dicuci dan ditiriskan
6. Kedelai kupas dikukus 15 menit, kemudian didinginkan
7. Kedelai yang telah dingin, diberi ragi tempe
8. Kedelai yang telah diberi ragi, dimasukkan dalam plastik serta dilubangi
9. Kemasan plastik tersebut disimpan selama 2 hari (40 jam)
10. Produk tempe sudah siap untuk diolah lebih lanjut. Kecap

Kecap
* Bahan:
1. Kedelai : 0,5 gr
2. Garam : 200 gr
3. Gula jawa : 2 kg
4. Bumbu-bumbu : pekak, jinten, jahe, sere, kayu manis, salam, laos, vetsin
* Alat:
1. Nyiru, guci/toples
2. pisau, telenan, kain saring
3. wajan dan kompor.
* Cara Pembuatan:
1. Kedelai dicuci sampai bersih, kemudian direndam dalam 1,5 – 2 liter air bersih selama satu malam.
2. Direbus dengan air bersih sampai lunak.
3. Buat larutan garam 20% (200gr garam dilarutkan dalam 1 liter air).
4. Kedelai direndam dalam air garam selama 2 – 4 minggu.
5. Selesai perendaman, disaring, cairan diambil, ampas ditambah 1 liter air, rebus, disaring.
6. Masukkan gula yang telah disisir beserta bumbu-bumbu, rebus hingga mendidih.
7. Saring larutan di atas, dan dimasukkan ke dalam botol.

Tahu
* Bahan:
1. Kedelai 5 kg
2. Air secukupnya
3. Batu tahu 1 gram
* Alat:
1. Ember besar
2. Tampah (nyiru)
3. Kain Saring atau kain blancu
4. Kain pengaduk
5. Cetakan
6. Keranjang
7. Rak bambu
8. Tungku atau kompor
9. Alat penghancur (alu)
* Cara Pembuatan:
1. Dipilih kedelai yang baik, kemudian dicuci;
2. Kedelai direndam dalam air bersih selama 8 jam (paling sedikit 3 liter air untuk 1 kg kedelai). Kedelai akan mengembang jika direndam
3. Dicuci berkali-kali kedelai yang telah direndam. Apabila kurang bersih maka tahu yang dihasilkan akan cepat menjadi asam
4. Ditumbuk kedelai dan tambahkan air hangat sedikit demi sedikit hingga berbentuk bubur
5. Dimasak bubur tersebut, jangan sampai mengental pada suhu 70-80 derajat celcius (ditandai dengan adanya gelembung-gelembung kecil).
6. Disaring bubur kedelai dan endapkan airnya dengan menggunakan batu tahu (Kalsium Sulfat = CaSO4) sebanyak 1 gram atau 3 ml asam cuka untuk 1 liter sari kedelai, sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan-lahan.
7. Dicetak dan pres endapan tersebut.

Kerupuk Tahu
* Bahan :
Bahan A
1. 1500 gr ampas tahu yang sudah dipress
2. 20 gr pemutih
3. 20 gr soda kue
4. 15 gr garam
5. 2 bks maggie
6. 5 gr msg
7. 25 gr bawang putih
8. 2 sdt ketumbar

Bahan B
1. 600 gr tepung tapioka

* Cara Membuat :
1. Campurkan Ampas tahu + pemutih makanan.
2. Tambahkan bahan A yang lain.
3. Tambahkan bahan B, campur dan diuli.
4. Cetak dan padatkan pada loyang.
5. Lepaskan dari loyang, kukus sampai masak (1 – 2 jam).
6. Angin-anginkan sampai keras dan iris tipis-tipis kemudian dikeringkan.
7. Goreng dalam minyak panas.

Kembang tahu

* Bahan:
1. 500 gr Kedelai
2. 1 lt air
3. air kapur secukupnya

* Cara Membuat:
1. Rendam kedelai selama 4 – 5 jam, kemudian kedelai dicuci sampai bersih.
2. Blender kedelai dengan ditambah air sedikit.
3. Saring dengan kain saring (menghasilkan filtrat/susu kedelai).
4. Panaskan filtrat/susu kedelai sampai suhu ± 80oC, dipertahankan ± 5 – 10 menit. Bila terdapat busa, busanya dibuang.
5. Kecilkan api kemudian tes pH nya (pH > 7,0). Apabila pH kurang dari 7,0 maka perlu ditambahkan air kapur secukupnya.
6. Langit-langit yang terdapat pada rebusan filtrat/susu diambil, kemudian dikeringanginkan à Kembang Tahu.

(Sumber gambar: http://bisnisukm.com)

Baca Selengkapnya......

Friday, 10 April 2009

Bergandeng Tangan Produksi Tiram

Enak betul Ayi Muhidin, pekebun jamur di Cugenang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Setiap hari seorang pengepul menjemput hasil panen ke rumahnya. Dari 3 kumbung berkapasitas 100.000 baglog, ia menuai 200 kg jamur per hari. Pengepul membayar Rp6.000 per kg sehingga omzetnya Rp36-juta per bulan. Jika kesulitan memasarkan ia tinggal angkat telepon. Pekebun inti akan memasarkan seluruh produksinya.

Namun, selama 3 tahun mengebunkan jamur ia tak pernah menghadapi kesulitan itu. Setiap hari pengepul menyambangi rumahnya, mengangkut jamur, dan membayar tunai saat itu juga. Untuk menjadi pekebun jamur, ia membeli baglog yang sudah diinokulasi miselium di pekebun inti, Triono Untung Priyadi. Lokasi kumbung Triono 5 km dari rumah tanamnya. Harga sebuah baglog berbobot 1,2 kg itu Rp1.350.

Sedangkan biaya perawatan selama 5 bulan Rp1.600 per kg. Total jenderal biaya produksi Rp2.950 per kg. Artinya, Ayi memetik laba bersih Rp3.050 per kg atau total Rp11.700.000 per bulan. Menurut Ayi pendapatan itu jauh lebih besar ketimbang omzet dari setoran 12 angkutan kota miliknya yang melayani trayek Cisarua - Mariwati. Itulah sebabnya ia berniat memperluas kumbung.
Terjamin

Bagaimana tak tergiur memperluas, pekebun inti sangat membantu. Bayangkan, Ayi menerima baglog yang sudah diinokulasi. Ia tinggal meletakkan baglog di rak tanam, lalu merawatnya. Jika gagal tumbuh, pekebun inti akan mengganti. Soal pemasaran, pekebun inti bersedia menampung jika plasma kesulitan memasarkan. Itulah sebabnya jumlah pekebun seperti Ayi terus bertambah.

Kini Triono bekerja sama dengan 25 pekebun plasma di Cianjur dengan kepemilikan 30.000 - 100.000 baglog. Total produksi 25 pekebun plasma itu mencapai 1 ton per hari yang terserap pasar. Itu pun belum semua permintaan terpenuhi. Permintaan pengepul di Bekasi dan Tangerang 600 kg per hari belum terlayani. Kondisi itu yang mendorong Wahyu tertarik menjadi pekebun plasma. Maka sejak 8 bulan lalu ia mengelola 20.000 baglog.

Triono mengembangkan kemitraan sejak 2004. Kini ia mengelola 8 kumbung yang mampu menampung 386.000 baglog. Dari rumah-rumah tanam itu Triono menuai rata-rata 750 - 1.000 kg jamur setiap hari. Dengan harga jual Rp6.750 per kg, omzetnya Rp5.062.500 sehari atau Rp150-juta sebulan.

Untuk memenuhi pekebun mitra, alumnus Universitas Gadjah Mada itu memproduksi 4.000 baglog setiap hari. Sementara untuk memenuhi kumbung pribadi juga 4.000 baglog. Kemitraan semacam itu juga dikembangkan oleh Rahmat, pekebun di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung.
Sekaligus sewa

Rahmat bukan hanya memasok baglog yang sudah diinokulasikan, tetapi juga kumbung. Artinya, pekebun tak perlu repot membangun rumah tanam. Begitu uang sewa dibayar, pekebun tinggal mengelola baglog-baglog menjelang panen. Praktis memang. Menurut Rahmat biaya sewa sebuah kumbung 8 m x 9 m plus 10.000 baglog hanya Rp1,1 juta per 4 bulan. Selama 3 bulan, pekebun terus-menerus memetik jamur tiram.

Lihat saja Ai Ratna Ningsih, pekebun penyewa yang menjadi mitra Rahmat. Dua tahun terakhir ia rutin mengantongi Rp18-juta per bulan hasil penjualan 3 ton jamur tiram. Sekarang Ratna mengelola 3 kumbung terdiri atas 30.000 baglog. Pada hari ke-40 ia membuka ujung baglog. Sejak itu ia rutin menyiram pada pagi dan sore. Sepekan kemudian, baglog baglog mulai mengeluarkan jamur-jamur berwarna putih.

Jika ada yang gagal tumbuh, Ratna tak khawatir lantaran Rahmat menjamin akan mengganti baglog yang gagal tumbuh. Rata-rata dari setiap baglog dapat dipanen 4 ons jamur. Total jenderal sampai bulan ke-4, ia memetik 4 ton jamur dari satu kumbung. Artinya, dengan harga Rp6.000 per kg, omzet Ratna Rp72-juta per periode dari 3 kumbung.

Setelah dikurangi biaya produksi seperti pembelian baglog, sewa kumbung selama 4 bulan, dan listrik, masih tersisa laba bersih Rp 12-juta dalam waktu 4 bulan. Penghasilan itu jauh di atas pendapatan sehari-harinya sebagai penjahit. Pantas, jika Ratna terus mengembangkan kumbung. 'Saya berani menyewa karena melihat baglog tetangga yang sukses mengebunkan jamur,' kata Ratna.

Menurut Kudrat Slamet, ketua Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia, pasar jamur tiram kian meluas. Produksi tiram di Desa Kertawangi, Kabupaten Bandung, saja mencapai 7 ton per hari. Itu belum mencukupi kebutuhan pasar yang mencapai 15 ton sehari. Setahun terakhir, misalnya, banyak permintaan jamur dari Cirebon, Garut, dan Sumedang.

Pasar berkembang juga karena muncul beragam olahan jamur tiram yang lezat antara lain sebagai keripik. Adi Yuwono, pengamat jamur nasional, mengatakan tren organik turut mendongrak pasar jamur. Pada umumnya jamur tumbuh organik - tanpa pestisida kimia.
Baglog

Tingginya permintaan jamur juga mempengaruhi produksi baglog. Yanti Heryanti menggunakan 2 kumbung besar berkapasitas 50.000 baglog. Ia membeli baglog dari Rahmat. Lalu 'membesarkan' miselium dan menjual kembali baglog itu 40 hari kemudian. Saat itu spora sudah menyebar ke seluruh permukaan baglog sehingga tampak warna putih.

Kegagalan tumbuh miselium biasanya sebelum hari ke-40. Makanya, banyak pekebun memilih membeli baglog umur 40 hari. Setiap 40 hari Yanti menjual hingga 40.000 baglog. Menurut Yanti tingkat kegagalan merawat miselium mencapai 20%. Dari 50.000 baglog yang ia rawat, 10.000 di antaranya tak berkembang alias miselium tak menyebar. Dengan harga jual Rp2.250 maka laba bersihnya mencapai Rp600 per baglog atau Rp6-juta selama 40 hari. Pembeli baglog itu antara lain para pekebun di Bogor, Tangerang, dan Karawang.

Slamet, produsen baglog di Kaliurang, Yogyakarta, mengatakan sejak 2007 penjualan baglog jamur tiram sebesar 70%. Padahal, sebelumnya penjualan baglog didominasi jamur kuping. Tren berkebun tiram nyata terlihat dari banyaknya pekebun jamur kuping yang beralih ke tiram.

Saat ini, dari 200 pekebun di Kaliurang, Yogyakarta, sekitar 140 merupakan pekebun jamur tiram. Padahal, dulu jumlah pekebun jamur kuping yang paling banyak. Pendatang baru pun bermunculan seperti Endro Pranowo. Pada awal November 2008, ia membenamkan modal Rp9-juta untuk menyulap kandang ayamnya menjadi kumbung jamur berkapasitas 4.000 baglog.

Akhir Desember 2008, sudah 4 hari Endro Pranowo memanen masing-masing 30 kg jamur per hari. Endro memprediksi panen stabil 30 kg per hari selama 2 bulan. Artinya dengan harga jamur di Yogyakarta Rp8.000 per kg di tingkat petani, selama 2 bulan Endro memperoleh Rp14,4 juta dari panen 1,8 ton.

Bahkan harga bisa lebih tinggi sampai Rp10.000 per kg lantaran Endro menjual langsung ke pedagang di pasar di Kranggan, Kolombo, dan Condongcatur. Dengan bergandeng tangan - antara pekebun plasma dan inti - lebih mudah menembus pasar.

Sumber: Trubus

Baca Selengkapnya......