Friday, 10 April 2009

Lele: Dua Bulan Panen

Ini cerita 4 tahun lalu. Berawal dari mengunjungi bekas lahan sawahnya yang tak terurus, Marliana Marzuki diberi nasihat seorang pemuka desa yang lahannya bertetangga. 'Bila kamu pensiun, pakai tanah itu untuk beternak lele'. Tiga tahun berselang usai purnakarya sebagai tenaga medis Kalimantan Timur, Marliana membangun kolam lele di atas lahan itu. Ia menebar 12.000 bibit lele paiton di penghujung Desember2008. Berjarak 2 bulan, akhir Februari 2009, ia memanen 4,5 kwintal lele seniali Rp. 4,5 juta.

Bermodal Rp170-juta Lin, panggilannya, membentengi lahan seluas 1.300 m2 di Desa Larangan, Cilegon, Provinsi Banten, dengan tembok semen setinggi 2 m. Di lahan itu alumnus sekolah perawat di Cikini, Jakarta Pusat, itu membangun 7 kolam tanah berukuran sama: 5 m x 7 m. Tidak semua kolam itu berisi lele. Lin hanya membenamkan masing-masing 4.000 bibit paiton sepanjang 8-10 cm di 3 petak kolam. Maklum ini budidaya pertama.

Lin membeli bibit paiton seharga Rp250 per ekor itu dari Pusat Pembibitan Lele Paiton di Pandeglang, Provinsi Banten. Paiton dipilih karena laju pertumbuhannya jauh lebih cepat daripada dumbo. Paiton sendiri merupakan silangan betina lele eks Thailand dan jantan dumbo. Untuk mencapai ukuran konsumsi 7-10 ekor/kg Clarias gariepinus itu cukup dipelihara 2 bulan; dumbo 3 bulan.

Dengan tingkat kematian di tahap pembesaran 5%, dari total 12.000 bibit ditebar, 11.400 ekor bertahan hidup sampai akhir Februari 2009. Selepas sortir, Lin memanen 6.000 ekor ukuran konsumsi, total berbobot 4,5 kuintal. Pengepul ikan di pasar Cilegon membelinya Rp10.000 per kg. Pada panen perdana itu Lin mengantongi pendapatan

Rp4,5-juta. Dipotong ongkos produksi Rp8.500/kg, ibu 1 putra itu mengantongi laba bersih Rp675.000. Sekitar 20 hari berikutnya 5.400 paiton tidak lolos sortir tahap awal siap dipanen. Artinya Lin mendulang 4,5 kuintal lagi.

Sangkuriang


Nun di Sleman, Yogyakarta, Erli membenamkan 14.000 bibit lele di kolam seluas 48 m2 pada akhir Desember 2008. Dua bulan berikutnya peternak di Desa Sindumartani itu menjala 1 ton clarias. Dengan harga jual ukuran konsumsi Rp10.500/kg, Erli menangguk pendapatan Rp10,5-juta. Setelah dikurangi biaya produksi Rp8.000/kg, ia meraup laba bersih Rp2,5-juta.

Sejatinya Erli meraup laba bersih sebesar itu setelah 3 bulan memelihara lele. Namun, itu saat masih beternak dumbo. Kini yang dipeliharanya jenis sangkuriang. Inilah lele unggul hasil perbaikan genetik dumbo, silangan crossback antara induk dumbo betina F2 dan jantan F6. Peneliti Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi merilisnya 5 tahun silam setelah terbukti sangkuriang dapat dipanen cepat, 60 hari. Keunggulan lain, nilai konversi pakan rendah, FCR 0,9; dumbo FCR 1,0-1,1.

FCR penting karena mempengaruhi pendapatan peternak. Begini gambarannya. FCR sangkuriang 0,9, artinya untuk menghasilkan 100 kg sangkuriang dibutuhkan 90 kg pakan. Dengan volume pakan serupa, cuma diperoleh 90 kg dumbo. Di sini terdapat selisih bobot panen sebesar 10 kg atau setara Rp105.000/kg. Jika Erli memanen 1 ton, sesungguhnya ia mengantongi penghasilan plus sebesar Rp1.050.000.

Lele paiton dan sangkuriang memang membuat peternak jatuh hati. Marliana dan Erli kepincut karena kedua jenis lele itu mempunyai waktu budidaya singkat, 60 hari. Dengan singkatnya masa produksi, 'Perputaran uang juga cepat sehingga bisa menambah modal atau nafkah,' kata Wagiran, ketua Kelompok Perikanan Trunojoyo di Kulonprogo, Yogyakarta.

Menurut Ade Sunarma MSi, periset sangkuriang dari BBPBAT, sangkuriang lahir sebagai jawaban keluhan peternak atas lamanya waktu budidaya dumbo. Saat pertama kali masuk di tanahair pada pertengahan 1990-an, masa budidaya lele asal Thailand itu cukup singkat, ukuran konsumsi dicapai 60-70 hari dari bibit ukuran 3-5 cm. Namun, seiring terjadinya inbreeding alias perkawinan sedarah sesama induk, ukuran konsumsi dicapai 100 hari. 'Makanya dilakukan perbaikan mutu sehingga muncul sangkuriang yang cepat panen,' kata Ade. Alasan sama juga berlaku untuk paiton.

Tren

Budidaya lele memang tengah marak. Penelusuran Trubus ke sentra lele seperti Bogor dan Indramayu (Jawa Barat), Kulonprogo dan Sleman (Yogyakarta), hingga Boyolali (Jawa Tengah) menunjukkan terjadinya kenaikan jumlah peternak. Menurut Wagiran, di Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo, kini terdapat 208 kelompok perikanan yang terdaftar di dinas perikanan. 'Dari jumlah itu 70% di antaranya pembesar sangkuriang dan paiton,' katanya.

Menurut Tati SP dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, peternak pemula lele pada 2008 mencapai 637 kelompok dengan anggota 6.200 peternak. Penyebarannya tidak terbatas di Pulau Jawa, tetapi ke daerah lain: Nusa Tenggara Barat (49 kelompok, 575 peternak), Nusa Tenggara Timur (14 kelompok, 96 peternak), Jambi (15 kelompok, 183 peternak), hingga Riau (18 kelompok, 125 peternak) dan Kepulauan Riau (76 kelompok, 764 peternak). Jenis yang dikembangkan dumbo, sangkuriang, dan paiton.

Menurut Saptono, ketua kelompok Tani Mino Ngremboko di Sleman, Yogyakarta, lele selalu dibutuhkan konsumen untuk memenuhi kecukupan gizi. Apalagi kini harga sumber protein hewani seperti daging sapi dan ayam sulit dijangkau. Penyerap terbesar rumah makan kakilima atau warung tenda yang menjamur di sepanjang jalan kota-kota besar. 'Kebutuhan mereka cenderung bertambah,' kata Saptono yang mencontohkan kebutuhan Kota Gudeg 30 ton lele/hari, tetapi baru terpenuhi setengahnya. Hal sama terjadi di Jakarta (75 ton/hari) dan Malang (4 ton/hari).

Daya tarik itu pula yang menggiring Sambas beternak sangkuriang. Peternak di Desa Kracak, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, itu mengelola 10 kolam bervariasi ukuran: 6 m x 10 m dan 8 m x 10 m di lahan 1 hektar. Rata-rata setiap bulan ia memanen 4,2 ton lele. Sambas dengan mudah memasarkan hasil panenannya. 'Berapapun produksi saya bisa menjualnya,' katanya. Mitra pedagang pengepul bahkan meminta Sambas menyuplai 1-3 ton per hari.

Rintangan

Beberapa batu kerikil siap menghadang peternak. Salah satunya tidak boleh telat panen. Idealnya ukuran konsumsi terdiri atas 7-10 ekor/kg. Begitu sekilo 5-8 ekor/kg atau lebih besar lagi, 2-5 ekor/kg, harga turun 30-40%. Lele ukuran besar dapat dipasarkan ke kolam pemancingan. Namun di sini serapannya kecil 1-2%. Maka dari itu Nining di Boyolali menyiasati dengan membuat beragam olahan lele: abon, keripik, bakso, dan nugget. 'Pasarnya luas terutama toko oleh-oleh,' ujar ketua kelompok Karmina itu. Kelompok ini, misalnya, menjual 70 kg per hari abon lele dengan harga Rp90.000/kg.

Harga pakan yang terus membumbung membuat peternak sulit mengelak. Menurut Kris Nugroho SPi, staf pemasaran perusahaan pakan ikan di Jawa Tengah, kenaikan harga itu lebih disebabkan bahan baku pakan, tepung ikan, masih diimpor dari Amerika Latin (Chile dan Peru). Sewindu lalu harga per sak isi 30 kg hanya Rp78.000 kini berkisar Rp190.000-Rp200.000.

Pakan memang kebutuhan terbesar. Jumaryanto, peternak di Kulonprogo, menjelaskan untuk 4.000 bibit ukuran 3-5 cm sampai panen (2 bulan) diperlukan sekitar 3,5 kuintal pelet. Perinciannya: 3-4 kg (pakan 99) selama 10-15 hari; 5 kg (pakan ukuran 2 mm) selama 5 hari; 10 kg (pakan ukuran 3 mm) selama 5-10 hari; dan 200-250 kg pakan campuran sampai panen. 'Paling tidak biaya pakan mencapai Rp2,5-juta-Rp2,7-juta,' katanya.

Menurut Saptono, peternak perlu mewaspadai serangan penyakit. Selain aeromonas yang datang setiapkali pancaroba, 'Yang sekarang banyak terjadi serangan penyakit kuning,' katanya. Clarias yang terjangkit penyakit akibat bakteri ini tubuhnya mendadak kuning, lama-lama mati. Penyakit ini timbul sebagai dampak sanitasi kolam jelek dan pemberian pakan rucah. 'Penyakit ini tidak menyebar ke lele lain, tapi cukup menganggu,' ujar Saptono.

Bulan baik

Batu sandungan tak melulu menyambangi peternak di sektor hulu. Di hilir para pedagang pengepul pun sulit mengelak dari hambatan. Ratusan juta melayang dari genggaman Harianto saat memasarkan lele, 2,5 tahun lalu. Tak tanggung-tanggung uang tertunggak di pedagang lain mencapai Rp350-juta. 'Saya sampai menggadaikan rumah untuk menutupi biaya yang sudah keluar,' kata pengepul di Malang, Jawa Timur, itu.

Karena belum memiliki jaringan pemasaran Asep Garlih di Bekasi mencoba menerobos langsung. Dua tahun lalu pemilik toko alumunium itu mengirimkan 4 ton lele dari Purwokerto ke pedagang di Jakarta. Setelah ditimbang volumenya susut 5% setara 200 kg. Dengan harga Rp9.000/kg, Asep kehilangan Rp1,8-juta. 'Pernah mengirim 5 kuintal, tapi pengepulnya bilang hanya 460 kg,' ujar Asep.

Toh beragam rintangan itu tak menghalangi peternak membudidayakan ikan bersungut itu. Apalagi saat datang bulan baik: menjelang puasa, lebaran, dan tahun baru. Di saat seperti ini permintaan lele meroket. Dampaknya laba yang diraup peternak lebih tinggi karena harga jualnya saat itu mencapai Rp11.000-Rp12.000/kg. Pantas banyak yang bertahan beternak lele. Janji laba itu pula yang membuat Marliana Marzuki mantap membuka kolam lele di masa pensiunnya.

Sumber: Trubus

9 comments:

ASM said...

Disini saya akan memberikan harga bibit ikan lele ( Clarias Gariepinus).. dan berbagai ukuran :

1. Benih ukuran 5 - 6 cm = Rp. 175,- (minimum Order = 15,000 ekor)

2. Benih ukuran 7 - 8 cm = Rp. 225,- (minimum Order = 12,000 ekor)

3. Benih Ukuran 9 - 10 cm = Rp. 275,- (minimum Order = 10,000 ekor)

4. Benih Ukuran 11 - 12 cm = Rp. 325,- (minimum Order = 5,000 ekor)


Bibit kualitas bagus, Dari indukan yang benar2 berkualitas,langsung ambil dari kolam...!!!

Note : " Ongkos Kirim Tergantung Jarak "

Rekan2 bisa menghubungi melalui :

08156153462
021-8715000
oni.jump@gmail.com
matanggonad@gmail.com
tonisadikin@yahoo.com (yahoo mesengger)
www.kumislicin.multiply.com
ANUGRAH SUKSES MANDIRI FISH FARM

organik-ajaib said...

*** Lele panen 29 hari,Belut panen 30 hari

Dengan pupuk ajaib BIBIT LELE DUMBO sebesar kelingking panen dalam 29 hari isi 1 kg 7-8 ekor,hemat pakan 40%.Belut dari pembibitan sebesar kabel panen dalam 30 hari berat rata-rata 500 gram/ekor.Pupuk ajaib Terbuat dari bahan organik murni 100%.Budidaya perikanan tanpa vaksin,antibiotik,dan vitamin lainnya.Bisa dengan pakan buatan sendiri atau pabrikan.Tersedia khusus tanaman,perikanan,peternakan dan untuk unggas.

sms:0857-8178-5140
http://organik-ajaib.blogspot.com/

misteruban said...

numpang nanya gan,..yang dimasksud pakan campuran itu apa ya gan,mohon penjelasannya,soalnya saya juga baru belajar tentang budidaya lele...makasih sebelumnya,...

lelesurabayamadura said...

akan terus lahir bibit-bibit lele unggulan baru selain phyton. Harapannya masa ternak lele jadi lebih singkat.

Mak Ginah dan fafan said...

baca lagi ah

Megan mahmud said...

Saya memfokuskan usaha pada
pembenihan bibit lele
sangkuriang.
Bagi yang membutuhkan bibit
lele
sangkuriang. Untuk wilayah Solo
dan
sekitarnya saya antar gratis.
Bibit
berkualitas karena dari indukan
bersertifikat dari BBAT. Kami
siap
membantu Anda sukses dalam
berternak lele. Konsultasi gratis.
Saya tidak menjual bibit saja.
Bibit
yg saya kirim. Bila sudah panen
akan
saya beli bila Anda kesulitan
menjual. Bila Anda butuh lele
konsumsi saya juga siap. Semua
harga bisa dinego Hub
085642057643
alamat Ngablak Rt/Rw 03/06,
Karangmojo, Tasikmadu,
Karanganyar, Solo

Ikhwan Hanafi said...

apakah hasil panen ikan lele bisa langsung di ambil..?

Nur Khamid said...

pak Megan ke kartasura juga bs diantar ? harga per ekor berapa panjang 2 3 cm

Nur Khamid said...

hub saya di 088801978488

Post a Comment